1.SEJARAH NABI IBRAHIM
Nabi Ibrahim adalah
putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih
bin Afrakhsyad bin Saam bin Nuh. Nabi Ibrahim dilahirkan
disebuah tempat bernama Faddam A’ram yang termasuk wilayah kerajaan Babilon.
Kerajaan Babilon pada waktu itu diperintah oleh seorang raja yang bengis dan
mempunyai kekuasaan absolute yaitu Namrud. Ia seorang raja yang tidak mau
lengser dan ingin berkuasa terus-menerus bahkan ingin hidup terus-menerus.
Karena itu ia tak segan-segan untuk membodohi rakyatnya agar menyembah berhala.
Bahkan ia juga memproklamirkan dirinya sebagai salah satu Tuhan yang harus
disembah oleh rakyatnya. Sehingga segala perintahnya tak ada yang berani
membangkang.
Sebelum Nabi Ibrahim lahir, raja Namrud pernah
bermimpi melihat seorang anak lelaki melompat masuk ke dalam kamarnya lalu
merampas mahkota dan menghancurkannya. Esok harinya ia memanggil tukang ramal
dan tukang tenung untuk menafsirkan mimpinya itu. Menurut tukang ramal, anak
laki-laki dalam mimpi sang raja itu kelak akan meruntuhkan kekuasaan sang raja.
Tentu saja raja namrud murka. Ia memerintahkan kepada para prajuritnya untuk
membunuh setiap bayi laki-laki yang baru saja lahir. Ketika Ibrahim lahir,
kedua orang tuanya bersembunyi di dalam gua. Sejak bayi hingga menginjak remaja
ia dibesarkan di dalam gua. Ia tidak pernah melihat dunia luar.
Ibrahim Mempergunakan Akalnya untuk berpikir
Rasa ingin tahu merasuki jiwa Ibrahim, selama ini ia hanya melihat
bongkahan batu dan tanah di dalam gua. Ketika ibunya sedang pergi ke kota
mencari makanan, ia pun mencoba keluar gua. Begitu menapakkan kakinya di luar
gua, Ibrahim tercengang. Ia benar-benar takjub melihat alam
yang sangat luas, gunung-gunung menjulang tinggi, langit biru terbentang luas,
ombak laut berkejar-kejaran. Di siang hari ia melihat cerahnya mentari, di
malam hari ia melihat sinar bulan yang menerangi malam.
Sejak kecil Nabi Ibrahim sudah mendapat
petunjuk dari Tuhan, ia merasa heran melihat orang-orang yang menyembah patung
padahal patung-patung itu tak bisa bicara, tak bisa melihat, tak bisa mendengar
dan tak bisa memberikan pertolongan. Mengapa mereka menyembah benda mati ?”
demikian pertanyaan yang timbul di benak Ibrahim. Jika ia bertemu
dengan unta, kambing dan domba-domba selalu bergolak pertanyaan dalam hatinya,
siapakah yang menciptakan semua itu ?
Ibrahim ingin
mencari siapakah yang berkuasa atas semua ini, siapakah seharusnya yang pantas
dijadikan Tuhan dan wajib disembah ? Ketika malam tiba, ia melihat bulan dan
bintang-bintang, namun bulan itu akhirnya tenggelam tak tampak lagi. Pada siang
hari ia melihat matahari, namun disenja hari matahari itu juga tenggelam tak
Nampak lagi. Ibrahim berkata dalam hatinya : “Aku tidak suka
bertuhan yang tenggelam itu.” Akhirnya Ibrahim dapat menemukan
kesimpulan, akal pikirannya yang masih suci bersih itu memutuskan bahwa Tuhan
adalah Yang menciptakan semua alam ini. Berkata dalam hatinya : “Tuhanku adalah
yang menciptakan langit dan bumi, Tuhanku yang menciptakan manusia, tetumbuhan,
hewan dan apa-apa saja yang terdapat di muka bumi ini.
Nabi Ibrahim bergaul dengan Kaumnya
Sesudah dewasa dan berita tentang pembunuhan bayi-bayi sudah
sirna. Ibrahim diijinkan kedua orang tuanya keluar dari gua
untuk hidup ditengah-tengah masyarakat. Kesedihan menggoroti hatinya, ternyata
masyarakat disekitarnya sudah bobrok mental dan akhlaknya. Akal pikiran mereka
benar-benar sudah tumpul sehingga patung dan batu-batu bergambar mereka jadikan
Tuhan yang disembah-sembah. Ayah Ibrahim sendiri adalah tukang
pembuat patung yang dijual ke masyarakat banyak, dan ayahnya juga menyembah
patung yang dibuatnya sendiri.
Ibrahim kemudian
mengadu kepada Tuhan : “Ya Tuhan, aku sedang menderita, derita batin. Aku
melihat kemungkaran dan kesesatan, untuk apakah gerangan akal pikiran yang
dikaruniakan Tuhan kepada mereka ? Apakah akal pikiran itu hanya digunakan
untuk mencari kekayaan dan berbuat kerusakan belaka. Oh Tuhanku, tunjukilah aku
kalau Tuhan tidak menunjuki aku, sesungguhnya aku akan menjadi orang yang
tersesat dan berbuat aniaya.
Lalu Allah memberikan petunjuk kepadanya, ia diangkat menjadi
Nabi dan Rasul. Ia diberi Wahyu sehingga keyakinan tentang adanya Tuhan bukan
sekedar kesimpulan akal pikirannya belaka melainkan berasal dari ketetapan
Tuhan. Allah mengajarkan segala rahasia yang ada di balik alam nyata ini, bahwa
di balik alam nyata ini ada juga alam ghaib. Setiap manusia yang mati kelak
akan dibangkitkan lagi di alam akhirat.
Ibrahim Meyakinkan Dirinya
Nabi Ibrahim sebenarnya sudah percaya akan adanya hari pembalasan di akhirat.
Pada suatu hari ia ingin memperoleh petunjuk yang lebih nyata dan meyakinkan
hatinya. Maka berdoalah ia kepada Tuhan : “Ya, Tuhanku perlihatkanlah kepadaku,
bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah menjawab
permintaan Ibrahim itu dengan sebuah pertanyaan : “Apakah kamu
belum percaya Ibrahim ?” Nabi Ibrahim menjawab
: “Saya telah percaya tetapi supaya bertambah yakin hati saya.”
Tuhan kemudian memerintahkan Ibrahim mengambil
empat ekor burung. Keempatnya dipotong-potong dan tubuhnya dicerai beraikan
atau dipisah-pisahkan. Potong-potongan kecil dari keempat burung itu dilumatkan
kemudian dijadikan empat onggok masing-masing onggokan diletakan di puncak
empat bukit yang letaknya berjauhan. Ibrahim kemudian
diperintahkan mengambil burung-burung yang sudah hancur tadi. Tiba-tiba saja
burung itu hidup lagi seperti sedia kala dan menghampiri Nabi Ibrahim.
Kini bertambah yakinlah Ibrahim akan kekuasaan
Allah yang menghidupkan sesuatu yang sudah mati. Allah kemudian berfirman
kepada Ibrahim : “Demikian pula Aku akan membangkitkan manusia
yang sudah mati untuk dihidupkan di alam akhirat, dan akan dihisap amal
perbuatannya sewaktu di dunia. Dan semua manusia akan menerima balasannya
sendiri-sendiri”.
Ajakan kepada Ayahnya Meninggalkan
Berhala
Sebelum Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk
meninggalkan penyembahan terhadap berhala, pertama kali yang diajaknya
menyembah Allah adalah ayahnya sendiri. Ayah Ibrahim yang
bernama Aazar adalah pembuat patung berhala, ia memperingatkan ayahnya dengan
bahasa yang lemah lembut penuh kesopanan : “Wahai ayahku, mengapa engkau
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong
kamu sedikitpun ? Wahai ayahku, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang diberikan
Allah dan tidak mungkin diberikan kepadamu. Maka ikutilah nasihat-nasihatku,
nsicaya akan menunjukan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah engkau
menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Wahai ayahku, sesungguhnya aku kuatir engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang
Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan dari setan.”
Tapi ayahnya tidak mau mengikuti ajakan Ibrahim.
Berkata ayahnya, “Bencikah kamu terhadap Tuhanku, Ibrahim ?
Jika kamu tidak berhenti mengajakku niscaya aku akan merajammu. Tinggalkanlah
aku buat waktu yang lama. Karena ayahnya tidak mau mengikuti ajakannya ia hanya
berkata : “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun
bagimu pada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik padaku. Dan aku akan
menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Dan aku
akan berdoa kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdoa kepada
Tuhanku.”
Doa atau permohonan Nabi Ibrahim untuk ayahnya
tak lain adalah karena kasih sayangnya selaku anak kepada ayahnya. Namun
setelah Allah menerangkan bahwa ayah Ibrahim adalah musuh
Allah maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Tak ada beban
moral lagi selaku anak kepada ayahnya seperti tersebut dalam Al-Qur’an : “Dan
permintaan ampun dari Ibrahim untuk ayahnya, tidak lain
hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu. Maka
tatkala jelas bagiIbrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah,
maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah
seorang yang lembut hatinya lagi penyantun.”
Nabi Ibrahim Menghancurkan
Berhala-berhala
Nabi Ibrahim adalah
seorang cerdas dan ahli logika serta strategi yang ulung, ia ingin berdialog
dengan Raja Namrud di hadapan orang banyak dengan cara ia hancurkan lebih dulu
berhala-berhala yang menjadi sesembahan Raja Namrud dan rakyatnya. Hal itu ia
lakukan ketika sang raja dan semua rakyat sedang berpesta hari raya dengan
berburu di tengah hutan. Disaat rumah penyembahan berhala kosong maka Ibrahim masuk
membawa kapak. Berhala-berhala kecil dan sedang dihancurkannya, lalu kapak yang
dibawanya itu diletakkan di leher berhala yang paling besar.
Raja Namrud dan pengikutnya kembali dari perburuan dengan wajah
gembira. Mereka akan mengadakan pesta pora sambil menyembah berhala diruang
pemujaan. Namun betapa terkejut mereka saat melihat berhala-berhala itu telah
cerai berai. “Kurang ajar siapa yang berani menghancurkan berhala kita ? “Raja
Namrud meluapkan amarahnya. Tidak seorang pun menjawab, namun ada seorang saksi
yang melihat bahwa hanya Ibrahim saja yang tidak ikut berburu
ke hutan dengan alas an perutnya sakit. “Tangkap dia dan bawa ke hadapanku !”
Perintah Raja Namrud.Ibrahim kemudian ditangkap, dalihnya karena
hanya ia seorang yang tidak ikut keluar kota untuk berburu hewan. Pastilah ia
yang melakukan penghancuran ini.
Ia dibawa ke hadapan Raja Namrud, disaksikan rakyat banyak ia
diinterogasi. Ibrahim tersenyum, memang inilah yang
diharapkannya. Bertanya Raja namrud : “Apakah kamu yang menghancurkan
berhala-berhala itu ?” Bukan ! “jawab Ibrahim. “Ibrahim !
Sergah Raja Namrud. “Cukup banyak bukti yang menunjukkan kaulah pelakunya. Tak
usah mungkir !” Bukan aku pelakunya ! JawabIbrahim untuk memancing
emosi Raja Namrud. Ia ingin mengajak dialog raja itu.
Baiklah Raja Namrud, “kata Ibrahim, “saya punya
pikiran, kamu juga punya pikiran. Kalau mau mencari tahu siapa pelaku
penghancuran berhala-berhala itu maka tanyakanlah kepada berhala yang paling
besar itu. Bukankah kapak itu menggantung di lehernya, berarti berhala paling
besar itu pelakunya.raja Namrud berang mendengar ucapan itu : “Hai Ibrahim kau
sungguh bodoh ? dimana otakmu ? masak patung seperti itu akan saya ajak bicara
mana mungkin dia bias bicara ? Kau jangan mengada ngada !
“Hai Raja namrud ! Kata Ibrahim dengan
lantangnya, siapa sebenarnya yang bodoh. Mengapa patung yang tak dapat bicara
dan bergerak kau jadikan Tuhan yang harus disembah. Mengapa patung dan berhala
yang tak dapat melindungi dirinya itu kalian puja-puja, bukanlah ini kebodohan
yang teramat sangat ?” Raja Namrud dan pengikutnya terdiam mendengar
jawaban Ibrahim itu. Sebagian masyarakat akalnya sehat
membenarkan ucapan Nabi Ibrahim itu, namun mana berani mereka
angkat bicara. Sementara Raja Namrud dan pengikutnya tak dapat membantah. Hanya
amarah yang timbul di hatinya, dan langsung Raja Namrud memerintahkan Ibrahim untuk
ditangkap dan diikat.
Apa hukuman yang pantas dijatuhkan untuknya ? Taya Raja Namrud
kepada para penasihatnya. Bakar ! bakar saja dia sampai mati ! jawab para
penasihat kerajaan. Kayu-kayu segera dikumpulkan, Ibrahim diletakkan
di atasnya dalam keadaan terikat kemudian dibakarlah ia hingga kayu yang
bertumpuk-tumpuk itu habis. Raja Namrud dan rakyatnya mengira Ibrahim akan
hangus menjadi abu. Namun setelah api itu padam Ibrahim masih
segar bugar. Itulah mujizat Nabi Ibrahim. Tak mempan terbakar.
Dialog Ibrahim dengan Raja namrud
Sesudah Ibrahim dibakar tidak mati, sebenarnya
banyak rakyat yang mau mengikuti ajarannya. Tapi karena takut pada ancaman Raja
Namrud, maka mereka masih banyak yang kafir. Nabi Ibrahimpun
meneruskan dakwahnya untuk mengajak manusia hanya menyembah Allah. Hal ini
membuat murka Raja namrud. Suatu hari Nabi Ibrahim dipanggil
menghadap ke istana Raja Namrud. Engkau telah menyebarkan fitnah yang jahat
sekali, “Kata Raja Namrud, “Adakah Tuhan selain aku ? Akulah Tuhan yang harus
kamu sembah. Aku dapat megatur dan merusak segala-galanya. Siapakah yang lebih
tinggi kekuasaannya dari pada aku ? Hukum yang kutetapkan mesti berlaku,
keputusanku pasti berjalan. Semua orang tunduk kepadaku, mengapa kau
menantangku ?”
Dengan tenang Ibrahim menjawab : Tuhanku adalah
Allah. Dialah yang kusembah, dia telah menciptakan kamu dan aku yang asalnya
tidak ada. Ia sanggup mematikan dan menghidupkan siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Ia adalah pencipta langit dan bumi. Raja Namrud menyanggah
jawabanIbrahim itu dengan pendapatnya yang konyol “ “Aku juga bias
menghidupkan dan mematikan. Benarkah ? Tanya Nabi Ibrahim. Raja
namrud kemudian memerintahkan pengawal untuk megeluarkan dua orang narapidana.
Kemudian Namrud mengambil pedang, salah seorang dari narapidana itu dipenggal
lehernya sampai mati, seorang lagi diampuni, dibiarkan hidup. Lalu Namrud
berkata : “Begitulah caranya aku menghidupkan dan mematikan.”
“Itu bukan mematikan, melainkan membunuh dengan cara biadab dan
kejam. “Kata Ibrahim, Tuhanku bias menjalankan matahari dari timur
ke barat, jika kau memang berkuasa namrud, cobalah kau jalankan matahari itu
dari barat ke timur !” Namrud terbungkam tak bias bicara. Tantangan Nabi
Ibrahim benar-benar telah dijatuhkan oleh kecerdasan akal Ibrahim.
Namrud terbungkam tak bisa bicara. Tantangan Nabi Ibrahim benar-benar
membuatnya keok, tak bisa membantah lagi, ia benar-benar telah dijatuhkan oleh
kecerdasan akal Nabi Ibrahim. Sejak saat itu Namrud menganggapIbrahim sebagai
musuh besarnya.
Ibrahim Hijrah ke Mesir
Karena Negeri babilon tidak aman lagi bagi Ibrahim dan
istrinya maka ia memutuskan untuk pindah ke Syam (Palestina). Bersama Nabi Luth
yang kemudian juga menjadi Nabi dan beberapa pengikutnya ia meninggalkan
Babilon (baca Kisah
Nabi Luth AS). Namun tidak berapa
lama di Negeri Palestina diserang bahaya kelaparan dan penyakit menular. Ibrahim dan
pengikutnya kemudian pindah ke Mesir. Mesir pada waktu itu diperintah oleh Raja
kejam dan suka berbuat seenaknya. Raja Mesir suka merampas wanita-wanita cantik
walapun wanita itu bersuami.
Ketika Raja Mesir mendengar bahwa Sarah adalah perempuan yang
cantik maka Ibrahim dan Sarah dipanggil menghadap. Ibrahim berdebar,
Raja Mesir memang mempunyai kebiasaan aneh, yaitu merampas istri orang yang
berwajah cantik sekedar untuk menunjukkan betapa besar kekuasaannya, tak
seorang pun berani menghalangi perbuatannya. Setelah menghadap Raja Mesir ia
ditanya : “Siapakah perempuan itu ? “Saudaraku, “jawab Ibrahim,
sengaja ia berbohong, sebab jika ia berkata terus terang tentu ia akan dibunuh
Raja Mesir dan istrinya akan dirampas. Perbuatan Ibrahimini menjadi
kaidah, boleh berbohong dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya.
Nabi Ibrahim dan
istrinya boleh tinggal di istana, pada suatu hari Sarah dapat menyembuhkan
sakit Raja Mesir yaitu sepasang tangan Raja itu mengatup rapat tak dapat
digerakkan, atas jasanya itu Sarah kemudian diberi hadiah seorang budak
perempuan bernama Hajar. Dan dengan ikhlas hajar kemudian diberikan
kepada Ibrahim untuk dijadikan Istri. Di Mesir, Ibrahim dapat
hidup tentram dan makmur. Hartanya melimpah ruah. Tapi justru ini menjadikan
iri hati bagi penduduk asli Mesir. Maka Ibrahim kemudian
memutuskan kembali ke Palestina. Sejak saat itu Palestina dijadikan tempat
tinggalnya. Di jadikan tanah airnya dan dijadikan tempat untuk menyembah Allah.
Di Negeri Palestina itu Hajar melahirkan seorang anak lelaki yang bernama
Ismail. Tak lama kemudian Sarah juga melahirkan anak laki-laki dan dinamakan
Ishak.
2.PENINGGALAN NABI IBRAHIM
Ada banyak peninngalan dari Nabi Ibrahim AS diantaranya sebagai
berikut.
Ka’bah
Kakbah (bahasa Arab: الكعبة, transliterasi: Ka'bah) adalah Bait Suci atau
tempat beribadah kepada Allah yang pertama kali didirikan di muka bumi.[1] Bentuk
bangunan Kakbah mendekati bentuk kubus yang
terletak di tengah Masjidil Haram di
Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam), dan
merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau
arah patokan untuk hal-hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di
seluruh dunia seperti salat. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau
diziarahi pada saat musim haji dan umrah.
Maqam Ibrahim
Maqam
Ibrahim adalah sebuah prasasti yang berbentuk kotak dengan dua lubang di
atasnya.Lubang itu berbentuk pahatan yang mengikuti jejak kaki Nabi Ibrahim
saat membangun baitullah, Ka’bah, di Makkah Al-Mukarramah. Jadi, Maqam Ibrahim
artinya tempat Nabi Ibrahim berdiri ketika membangun Ka’bah bersama anaknya,
Nabi Ismail.
Kunci Ka’bah
Setiap bangunan pasti memiliki pintu dan pintu pasti
memiliki kunci.begitu juga dengan Ka’bah.
